Selasa, 22 Mei 2012

Studi Komparatif Terhadap Kinerja Saham Syariah di Indonesia dan Malaysia. 138


Laporan Tim Studi Investasi Syariah BAPEPAM menginformasikan
bahwa perkembangan saham syariah di Malaysia lebih baik dibandingkan
di Indonesia pada tahun 2004. Pada tahun 2007, World Federation of
Exchange (WFE) melaporkan kinerja indeks gabungan (IHSG) BEI dan
kapitalisasi pasarnya lebih tinggi melampau Indeks gabungan (KLCI)
Malaysia. Berdasarkan informasi tersebut, ada indikasi hubungan tidak
searah antara perkembangan saham syariah dengan perkembangan
saham secara keseluruhan di kedua negara bersangkutan, yang diduga
disebabkan oleh perbedaan kinerja perusahaan secara individual.
Penelitian ini berupaya menganalisis dan mebandingkan kinerja
saham syariah di kedua negara tersebut dengan menggunakan indikator
penilaian saham secara fundamental dan teknikal. Indikator fundamental
meliputi penilaian karakteristik keuangan, market performance, dan
sensitivitas saham terhadap variabel makro ekonomi, sedangkan indikator
teknikal menggunakan tolak ukur volatilitas yang diukur dengan GARCH
(1,1). Secara keseluruhan, analisis terdiri dari tiga tahapan, dimana tahap
pertama menggunakan uji beda rata-rata independen sampel, tahap
kedua menggunakan binary logistik dan tahap ketiga menggunakan
regresi linear berganda.
Hasil analisis menemukan bahwa karakteristik keuangan yang
diukur dari current ratio (CR), Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio
(DER) dan Price Earning Ratio (PER) saham syariah di Indonesia dan
Malaysia tidak berbeda nyata, kecuali pada DER dan PER. Market
performance yang diukur dari Sharpe’s index tidak berbeda, sedangkan
GARCH (1,1) saham syariah di Indonesia lebih tinggi dibandingkan di
Malaysia. Dari hasil uji logistik diketahui bahwa nilai saham di kedua
negara tidak bisa diprediksi menggunakan karakteristik keuangan,
sementara pengujian regresi berganda menyimpulkan bahwa variabel
makro ekonomi yang diwakili inflasi, nilai tukar, rate of risk free of assets ,
dan composite index baik secara bersama-sama maupun secara parsial
terbukti tidak berpengaruh terhadap return saham di Indonesia.
Sementara di Malaysia, di antara keempat variabel makro ekonomi
tersebut, secara parsial hanya nilai tukar yang berpengaruh negatif
terhadap return saham, sedangkan secara simultan model tidak cocok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar